Walikota Siantar Tidak Perlu Di Apresiasi

Oposisi-news.id/P.siantar—-Adanya Pemasangan Baliho yang berisi Himbauan penggunaan masker dengan bahasa Simalungun dan berlatar gambar pakaian Adat Suku Simalungun mendapat tanggapan dari salah satu pemerhati publik di Siantar.

Andry Cristian Garingging,selaku Ketua Bina Daya Sejahtera Simalungun(BIDASESI) dalam keterangnya yang di sampaikan kepada tim media ini pada hari sabtu (18/04/2020) melalui pesan singkat Whatsapp menyampaikan bahwa menurutnya tidak ada yang istimewa ketika Pemerintah Kota Pematangsiantar membuat baliho himbauan supaya mengenakan masker dengan latar gambar pakaian adat dan bahasa Simalungun.

Untuk setiap daerah Tuhan sudah menentukan tuan rumahnya masing-masing, di Sumut misalnya, di Tapanuli Utara, Tobasa, Humbahas dengan suku Toba, Dairi dengan Pakpak, Karo dengan Etnis Karo, Mandailing di Tapanuli Selatan, Betawi di Jakarta, Sunda di Jawa Barat dan Siantar – Simalungun dengan Etnis Simalungun dan itu sudah keharusan,ungkapnya.

“Justru, memang suatu kewajiban bagi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah untuk menjaga adat dan budaya berdasarkan otonomi daerah dan kearifan lokalnya masing-masing”

Lagian menurut Andre hanya ada baliho, apa yang perlu diapresiasi? Lain halnya Walikota Pematangsiantar Hefriansyah memberdayakan suku Simalungun dalam pemerintahannya sebagai Sekda, Kadis-Kadis, dan memberdayakan suku Simalungun menjadi mitra Pemko Pematangsiantar dalam pengerjaan proyek-Proyek pengadaan barang & jasa dan konstruksi, itu baru perlu diapresiasi.

Tapi, faktanya tidak demikian, malah sebaliknya. Fakta, justru beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2018 Walikota Pematangsiantar Hefriansyah MENISTA suku Simalungun dengan mengatakan Simalungun sebagai Pusaka, dan bahkan melakukan penistaan yang berulang-ulang, ujar Andre mengahiri.(Ops/Tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *