Tidak Miliki Izin dan Diduga Tempat Prostitusi Pemilik Hotel dan Kafe di Lapor

Foto : laporan FPSS yang dikirim keredaksi

OposisiNews-Pematangsiantar

Banyaknya hotel dan kafe-kafe yang terdapat di sepanjang jln. J. Wismar saragih kelurahan tanjung pinggir kec. Siantar martoba yang diduga sebagai tempat prostitusi dan mempekerjakan wanita dibawah umur, ini harus menjadi perhatian serius dari pemerintah kota pematangsiantar.

Namun sepertinya pihak pemerintah terkesan cuek dan tidak mau tahu, hal ini membuat salah satu lembaga yang mengatasnamakan Forum Peduli Siantar Simalungun (FPSS) melaporkan pihak pengusaha hotel Sriwijaya, Edelwis hotel dan sejumlah kafe-kafe di sepanjang jalan J. Wismar Saragih kepada walikota pematangsiantar dan kapolres pematangsiantar dengan nomor surat:FPSS/089/LAP/I/2020 yang ditandatangani oleh ketua Naldo Purba dan sekretaris Ilham.

Dalam suratnya yang dikirim ke redaksi, FPSS menjelaskan bahwa pihaknya menduga bahwa hotel sriwijaya,hotel Edelwis dan beberapa kafe-kafe yang terdapat di Jln. Pdt J wismar saragih tidak memiliki ijin lingkungan dan izin usaha lainya sehingga bertentangan dengan uu No.32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan Perwa 23 tahun 2013 tentang tata laksana terhadap jenis usaha/atau kegiatan yang wajib menyusun dokumen tentang izin lingkungan.

Dalam suratnya juga pihak FPSS juga mendesak walikota pematangsiantar untuk segera memerintahkan Satpol PP untuk segera menutup segala jenis usaha yang tidak mematuhi uu yang berlaku dan meminta kepada kapolres Pematangsiantar untuk segera memproses laporanya yang diduga adanya pelanggaran hukum yang dilakukan oleh beberapa pihak pengusaha.

Terpisah saat Tim media ini mencoba meminta tanggapan beberapa masyarakat sekitar usaha hotel dan kafe-kafe, sebagian besar masyarakat mengatakan merasa resah dan terganggu dengan keberadaan hotel dan kafe-kafe remang-remang yang ada di daerah mereka.

Seperti yang di sampaikan salah seorang warga S. Sinaga kepada media ini sabtu 1/1/2020,bahwa sebenarnya masyarakat sekitar sini sudah banyaknya yang resah dengan keberadaan hotel dan kafe-kafe yang ada di daerah ini bang.

“Sudah resahnya kami sebenarnya dengan banyaknya kafe-kafe dan hotel hotel esek-esek ini kami sangat kwatir jika ini tetap beroperasi dikampung ini bisa menjadi citra kampung kami ini jelek, maka kami minta kepada pemerintah kota melalui pihak kelurahan supaya segera mangabil sikaplah minimal menyampaikan keluhan ini ke Wlikota “

Hal yang sama juga disampaikan oleh berapa ibu-ibu mereka meminta kepada pihak pemerintah kota untuk segeralah menutup tempat tempat yang berbau maksiat mulai hotel esek-esek dan kafe-kafe remang-remang supaya segera ditertipkan.

“kalau ini terus dibiarkan kami kuatir ini bisa menimbulkan keributan di masyarakat karna kami tidak nayaman karna suara-suara musik yang kuat samapai larut malam, yang kedua soal adanya hotel yang tepat di tengah pemukiman baiknya itu harus ditutup atau dipindahkan saja karna kurang paslah bang ini dibiarkan.

Terpisah saat tim media ini mengkonfirmasi langsung pihak salah satu pengusaha hotel terkait adanya dugaan miring salah satu kelompok masyarakat terkait keberadaan hotel tersebut, pihak pengusaha membantah tuduhan miring yang di sampaikan FPSS tersebut.

“Tidak ada itu lae semua izin kita lengkapnya dan selama ini juga kita selalu membangun komunikasi baik kok sama masyarakat sekitar dan pihak pemerintah mulai dari lurah, camat bahkan pihak satpol PP”
Ucap pihak pengusaha yang mengaku bermarga saragih saat ditemui.(Tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *