Anggaran Rp.199,6M, “Covid Simalungun Aneh”

Oposisi-news.id/Simalungun–Mengutip tulisan Jan Wiserdo Saragih di dinding Face book nya yang diberi juludul , Covid Simalungun beda , ada yang layak dianggap sebagai aneh dan lelucon.

Keanehan tersebut terlihat dari uraian video konferensi pers J.R Saragih sebagai ketua tim gugus percepatan penanganan Covid-19 saat menyampaikan keterangan yang beredar di media sosial tgl 28 Maret 2020 . saat itu J.R Saragih menyampaikan ” apa bila satu kena akan mengenakan paling tidak tiga ribu orang “.
Menurut Jan Wiserdo ini kurang berdasar karena WHO justru mencatatkan bahwa Basic Reproduktif Number ( R0 ) untuk Covid-19 yang direkam WHO angkanya antara 1,9 sama 5 , dan untuk Indonesia R0 nya diperkirakan 2,5 artinya satu orang bisa menularkan ke dua atau tiga orang, bukan 3000 orang.

Kemudian J.R Saragih menyampaikan , ada satu nagori yang di lakukan test rapid test , terhadap pasien , keluarga dan termasuk dokter yang memeriksa dan hasilnya masih semua negatif ” tapi walaupun semua negatif di Nagori tersebut JR Saragih menerbitkan surat untuk agar Nagori tersebut di isolasi.

Demikian juga video 3 April 2020 J.R Saragih menyampaikan bahwa akan terjun langsung ke Perdagangan, men rapid test 100 sampai 150 sample besoknya ke Karang Sari akan men rapid test 200 orang sample.

Lalu membandingkan dengan video tanggal 6 April 2020 , saat itu J.R Saragih menyampaikan telah melakukan test di Raya, men sample 15 orang ditemukan satu positif dan men sample satu orang masyarakat Sarimatondang ditemukan satu positif dan menurut JR Saragih sedang di Rawat di RS Rondahaim.

Tindakan tim gugus ini menjadi aneh, bahkan seperti lelucon karena saat di Nagori lain ada 1 yang positif , Tim gugus langsung mensample dengan rapid test sampai 200 orang membawa rombongan , rongen, laboratorium , tenaga medis dan meskipun hasilnya Negatif Nagori tersebut langsung di isolasi, namun di Sarimatondang satu yang di test dan satu positif, tim gugus tidak ada melakukan pengecekan smple lanjutan baik keluarga terdekat maupun masyarakat, tidak ada membawa rongen, lab dan rapid test dan tidak mengisolasi Nagori tersebut, padahal persentasi kemungkinannya 100% masyarakat positif. Dan menjadi lebih aneh karena JR Saragih menyatakan apa bila satu kena paling tidak bisa mengenakan 3000 orang.

kondisi ini menjadi tambah aneh dan seperti lelucon karena anggaran yang di gunakan ternyata hampir Rp.200 miliar.

Saat hal ini di tanyakan kepada Jan Wiserdo Saragih, Kamis,9/07/20 cucu tokoh Simalungun Pdt.J.Wismar ini menjawab singkat ” ini sudah kejahatan luar biasa dan kami sudah sampaikan laporan ke Presiden dan KPK ” jawab nya lewat pesan Whats Up.

Saat dimintakan tanggapan kadis kesehatan dr. Lidya Saragih kamis,9/07/20 terkait penanganan Covid-19 yang diangap aneh, dr.lidya tidak menjawab pesan dari wartawan meski pesan yang dikirimkan terlihat dibaca.

Jubir tim gugus tugas penanganan Covid-19 di Simalungun Akmal Siregar belum berhasil dimintai tanggapanya.(Ops/Tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *