Anggaran Penanganan Covid-19 Rp.43,7 M Tetapi Pemko Siantar Berulangkali Terlantarkan Masyarakat.

Oposisi-news.id/P.siantar—Dalam penanganan pencegahan penyebaran Covid 19 Pemerintah Kota pematangsiantar telah menganggarkan dana yang cukup fantastis yaitu sebesar Rp. 43,7 M, namun besarnya anggaran tersebut tampaknya berbanding terbalik dengan pelayanan yang didapat oleh masyarakat yang sedang mengalami perawatan( isolasi)di RSUD Djasamen Saragih.

Setelah sebelumnya beredar informasi tentang adanya salah seorang pendeta ber inisial RA yang merasa ditelantarkan oleh Pemko Pematangsiantar dengan tidak adanya fasilitas dan pelayanan yang baik ketika dalam masa isolasi di RSUD Djasamen Saragih,kali ini protes keras kembali datang dari salah seorang perwakilan keluarga yang hendak melakukan isolasi di RSUD Djasamen Saragih.

Alfredo F Barutu,selaku keluarga Pasien yang hendak melakukan isolasi ketika di konfirmasi via seluler pada hari rabu (22/04/2020) mengatakan kekecewaannya terhadap Pemerintah Kota Pematangsiantar.

Menurut Edo,awalnya ia beserta istrinya melakukan pengecekan kesehatan ke Rs Tentara Pematangsiantar dikarenakan kondisi badan yang kurang baik, sesuai prosedur RS Tentara Pematangsiantar pun untuk melakukan pengecekan dengan menggunakan Rapid Test dan ternyata setelah dilakukan pengecekan terlihat tanda garis dua yang menunjukan Rapid tes reaktif dan setelah melihat hal tersebut ia dan pihak RS Tentara pun mengusulkan ke Puskesmas agar isterinya disolasi ke RSUD Djasamen Saragih guna menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, namun pihak puskesmas menyarankan agar ia dan isterinya agar pulang terlebih dahulu ke rumahnya agar kemudian di jemput oleh pihak tenaga kesehatan kerumah mereka.

Melihat hal tersebut ia pun merasa keberatan hingga terjadi perdebatan antara ia dan pihak Tenaga medis, ia mengatakan bahwa sebagai masyarakat yang baik ia sudah melaporkan kepada pihak kesehatan terkait adanya gejala-gejala yang mengarah ke Covid 19 namun pihak Pemko seolah-oleh tidak menyambut niat baik nya tersebut.

“Sebagai masyarakat saya sudah sampaikan untuk melakukan isolasi untuk istreri saya namun pihak Pemko menyarankan saya untuk membawa isteri saya kembali kerumah terlebih dahulu agar di jemput di rumah,itukan kebijakan konyol masa harus kerumah dulu kan bisa langsung dibawak ke RSUD Djasamen Saragih” ujar Edo.

Baca juga!!!

Masih menurut Edo, ia menghawatirkan apabila isterinya positif Covid 19 dan terlebih dahulu di bawa kerumah tentunya akan menciptakan penyebaran terhadap orang lain terlebih keluarga, maka saya usulkan agar langsung di isolasi bang.

Setelah perdebatan yang panjang ahirnya pihak Dinas Kesehatan pun langsung menjemput isterinya dari RS Tentara Pematangsiantar untuk di Isolasi di RSUD Djasamen Saragih.

Namun, sama seperti pasien sebelumnya Edo pun merasa kecewa lantaran fasilitas pendukung yang di temui di RSUD Djasamen Saragih jauh dari harapan dan tidak sesuai dengan anggaran yang dikeluarkan Pemko Pematangsiantar dalam penanganan Covid 19.

Saya selaku keluarga pasien sangat kecewa dengan pelayanan ini dan sangat menyayangkan kejadian-kejadian ini,kedepan saya berharap agar ini tidak terulang lagi demi kebaikan masyarakat Pematangsiantar.

Terpisah Dr Ronal Saragih selaku Plt.Direktur RSUD Djasamen Saragih ketika di konfirmasi pada hari rabu (22/04/2020) membantah kejadian tersebut dan mengatakan bahwa pihaknya telah melakuakan penjemputan terhadap pasien di RS Tentara Pematangsiantar.ujar Ronal.(Ops/Jo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *